Polresta Samarinda dan Forkopimcam Gelar Kurve Bersihkan Sungai Karang Mumus

Polresta Samarinda dan Forkopimcam Gelar Kurve Bersihkan Sungai Karang Mumus

Bayangkan kamu tinggal di pinggir sungai yang dulu jernih, tapi sekarang penuh sampah plastik dan limbah. Banjir kecil datang tiap hujan, bau menyengat, dan ikan sudah jarang kelihatan. Itulah kenyataan yang dihadapi warga sekitar Sungai Karang Mumus di Samarinda selama bertahun-tahun.

Tapi baru-baru ini, ada kabar baik! Polresta Samarinda bareng Forkopimcam Samarinda Ilir turun tangan langsung. Mereka gelar kurve – alias kerja bakti – untuk bersihkan sungai ikonik ini. Aksi ini bagian dari Gerakan Indonesia Asri yang lagi digencarkan secara nasional.

Keren, kan? Polisi nggak cuma jaga keamanan, tapi juga peduli lingkungan. Yuk, kita bahas lebih dalam apa yang terjadi di aksi kurve Sungai Karang Mumus ini, kenapa penting, dan apa yang bisa kita ambil pelajarannya.

Apa Itu Kurve dan Gerakan Indonesia Asri?

Pertama, mungkin ada yang bertanya-tanya, “Kurve itu apa sih?” Tenang, ini bukan istilah rumit. Kurve singkatan dari kerja bakti rutin yang sering dilakukan Polri. Biasanya untuk bersih-bersih lingkungan, baik di markas polisi maupun tempat umum.

Di aksi kurve Sungai Karang Mumus ini, kurve jadi lebih besar karena gabung dengan Gerakan Indonesia Asri. Program ini digagas untuk wujudkan Indonesia yang Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Polri di seluruh Indonesia lagi gencar lakukan aksi serupa, dari pantai sampai sungai.

Di Samarinda, kurve ini digelar pada Jumat pagi, 6 Februari 2026. Dipimpin langsung oleh Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Ary Fadli. Mereka nggak sendirian, lho. Ada personel dari Polsek jajaran, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, dan relawan masyarakat.

Sungai Karang Mumus: Ikon yang Butuh Perhatian Serius

Sungai Karang Mumus itu sungai utama di Samarinda. Panjangnya sekitar 20 kilometer, mengalir melewati banyak permukiman padat. Dulu, sungai ini jadi sumber air bersih dan tempat main anak-anak.

Tapi sekarang? Pencemaran parah. Sampah rumah tangga, limbah industri kecil, sampai minyak jelantah sering dibuang sembarangan. Akibatnya, air keruh, bau, dan sering banjir saat musim hujan karena aliran tersumbat.

Data dari DLH Samarinda menunjukkan, sungai ini salah satu yang paling tercemar di Kalimantan Timur. Banjir langganan di beberapa kecamatan, seperti Samarinda Ilir, sering karena sampah menumpuk di Karang Mumus.

Makanya, aksi seperti kurve Polresta Samarinda ini sangat dibutuhkan. Bukan cuma bersihkan sementara, tapi juga kasih contoh buat warga agar lebih sadar lingkungan.

Bagaimana Jalannya Aksi Kurve Ini?

Pagi itu, puluhan personel berkumpul di tepi Sungai Karang Mumus. Mereka pakai seragam lengkap, sarung tangan, dan kantong sampah besar. Ada yang naik perahu polisi untuk susur sungai, ada yang di darat pungut sampah di pinggir.

Aktivitasnya seru banget:

  • Pungut sampah plastik dan botol yang mengapung.
  • Angkat rumput liar dan eceng gondok yang menyumbat aliran.
  • Bersihkan tepi sungai dari tumpukan sampah rumah tangga.
  • Pakai perahu khusus untuk jangkau bagian tengah sungai.

Hasilnya? Beberapa karung besar sampah berhasil dikumpul. Meski nggak langsung bikin sungai bersih total, tapi ini langkah awal yang nyata.

Yang bikin salut, semua dilakukan dengan semangat gotong royong. Polisi, camat, lurah, sampai warga sekitar ikut bahu-membahu. Ini contoh sinergi lintas sektor yang patut diapresiasi.

Kenapa Aksi Seperti Ini Penting Buat Samarinda?

Samarinda lagi berjuang jadi kota lebih hijau dan layak huni. Sungai Karang Mumus adalah “urat nadi” kota ini. Kalau sungai sehat, banjir berkurang, udara lebih segar, dan ekosistem kembali hidup.

Beberapa manfaat langsung dari kurve ini:

  1. Mengurangi risiko banjir di musim hujan.
  2. Meningkatkan kesadaran masyarakat agar nggak buang sampah sembarangan.
  3. Dukung program Adipura yang lagi dikejar Pemkot Samarinda.
  4. Contoh nyata bahwa polisi peduli lebih dari sekadar keamanan.

Bayangin kalau aksi kurve Sungai Karang Mumus ini rutin dilakukan, ditambah edukasi ke warga. Lama-lama, sungai ini bisa kembali indah seperti dulu.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Warga?

Kamu yang baca ini, mungkin bertanya, “Emang aku bisa bantu apa?” Banyak, kok! Mulai dari hal kecil:

  • Jangan buang sampah ke sungai atau parit.
  • Pilah sampah di rumah, biar mudah didaur ulang.
  • Ikut kegiatan bersih-bersih lingkungan di RT/RW.
  • Ajak tetangga atau teman untuk peduli sungai.

Gerakan kecil dari banyak orang bisa bikin perubahan besar. Seperti kata pepatah, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.”

Penutup: Harapan untuk Sungai Karang Mumus yang Lebih Baik

Aksi kurve Sungai Karang Mumus oleh Polresta Samarinda dan Forkopimcam ini benar-benar inspiratif. Mereka tunjukkan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, nggak cuma pemerintah atau polisi.

Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut, dan semakin banyak pihak ikut serta. Karena pada akhirnya, sungai bersih berarti kota lebih nyaman untuk kita semua.

Kamu setuju nggak? Yuk, share pendapatmu di komentar kalau ada. Siapa tahu, kita bisa mulai gerakan kecil di lingkungan masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *